Makanan Enteng Di Depan Kubah Masjid Galvalum di Kendari Sulawesi Tenggara

Makanan Enteng Di Depan Kubah Masjid Galvalum di Kendari Sulawesi Tenggara

Makanan Enteng Di Depan Kubah Masjid Galvalum di Kendari Sulawesi Tenggara

Suatu hari disaat sedang mempir ke sebuah Kubah Masjid Galvalum. Aku dan teman teman pondok bertemu dengan seseorang yang sedang membagikan makanan gratis kepada orang orang. kami juga ikut kebagian, namun salah satu temanku tidak mau karena berfikir makanan yang dibagikan belum tentu makanan yang dihalalkan dalam ajaran agama islam.
Lapisan ke-4 yaitu agama Islam yang sudah menyumbangkan kepekaan pada tata teratur kehidupan lewat syari’ah, ketaatan lakukan shalat dalam lima saat, kepekaan pada mana yang baik serta mana yang jahat serta lakukan yang baik serta menjauhi yang jahat (amar makruf nahi munkar) Kubah Masjid Galvalum beresiko pada perkembangan akhlak yang mulia. Berikut beberapa hal yang disumbangkan Islam dalam pembentukan budaya bangsa. Susunan ke-5 yaitu agama Kristen, baik Katholik ataupun Protestan. Agama ini mengutamakan nilai kasih dalam hubungan antar manusia. Tuntutan Kubah Masjid Galvalum kasih yang dikemukakan lebih dari makna kasih dalam kebudayaan sebab kasih ini tidak menuntut balasan yakni kasih tanpa ada prasyarat. Kasih bukanlah satu cetusan emosional namun jadi aksi konkrit yakni memperlakukan sesama seperti sendiri. Atas basic kasih jadi gereja-gereja sudah mempelopori pendirian Panti Bimbingan, rumah sakit, sekolah-sekolah serta service pada orang miskin.
Lapisan ke-3 adaalah agama Buddha, yang sudah mewariskan nilai-nilai yang menjauhi ketamakan serta keserakahan. Dengan itu muncul nilai pengendalian diri serta mawas diridengan melakukan 8 tata jalan keutamaan. Kubah Masjid Galvalum menurut Ki Hadjar Dewantoro Kebudayaan yaitu ” suatu hal ” yang berkembang dengan kontinyu, konvergen, serta konsentris. Jadi Kebudayaan tidaklah suatu hal yang statis, baku atau mutlak. Kebudayaan berkembang bersamaan dengan perubahan evolusi batin ataupun fisik manusia dengan kolektif. Dari sebagian yang berkembang di Kubah Masjid Galvalum pendapat itu bisa diambil kesimpulan kalau kebudayaan atau budaya menyangkut keseluruhnya segi kehidupan manusia baik material ataupun non material. Seperti kebudayaan agama begitu mengutamakan arti serta signifikasi satu aksi. Karenanya sebenarnya ada hubungan yang begitu erat pada kebudayaan serta agama bahkan juga susah dipahami kalua perubahan satu kebudayaan dilepaskan dari dampak agama. Sesunguhnya tak ada satupun kebudayaan yang semuanya didasarkan pada agama. Untuk beberapa kebudayaan juga selalu ditantang oleh ilmu dan pengetahuan, moralitas secular, dan pemikiran gawat.
Walau tidak bisa disamakan, agama serta kebudayaan bisa sama-sama mempengarui. Agama memengaruhi Kubah Masjid Galvalum sistem keyakinan dan beberapa praktek kehidupan. Sebalikny akebudayaan juga bisa memengaruhi agama, terutama dalam soal bagaimana agama di interprestasikan/bagaimana ritual-ritualnya mesti dipraktikkan. Tak ada agama yang bebas budaya serta apa yang dimaksud Sang –Illahi akan tidak memperoleh arti manusiawi yang tegas tanpa ada mediasi budaya, dlam orang-orang Indonesia sama-sama mempengarui pada agama serta kebudayaan begitu merasa. Praktek inkulturasi dalam upacara keagamaan hamper umum dalam semuanya agama. Budaya yang digerakkan agama muncul dari sistem hubungan manusia dengan kitab yang dipercaya jadi hasil daya kreatif pemeluk satu agama namun dikondisikan oleh konteks hidup aktornya, yakni aspek Kubah Masjid Galvalum geografis, budaya serta sebagian keadaan yang objektif.
Budaya agama itu selalu tumbuh serta berkembang searah dengan perubahan kesejarahan dalam keadaan objektif dari kehidupan penganutnya.

1 year ago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *