7 Tips Membuat Prediksi ala Timo Scheunemann

Saat menonton pertandingan sepakbola di layar kaca kita sering disajikan aksi tebak skor yang dilakukan para pakar. Walau menarik, saya tidak percaya tebak skor adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan.

Kalau sekadar untuk fun and games bolehlah, tapi tentu tidak perlu dianggap serius karena tidak ada dasar logika yang cukup untuk menebak skor akhir sebuah pertandingan.

Berbeda dengan menebak siapa tim yang akan menang — atau bahwa pertandingan akan berakhir dengan seri. Menebak seperti itu lumrah saja dilakukan, walau pada akhirnya bola itu bundar sehingga pemenang pun sering kali salah diprediksi. Mengapa? Karena ada tata caranya. Ada logikanya. Ada “di atas kertasnya”.

Melalui tulisan ini saya akan bagikan beberapa tips membuat prediksi yang jitu. Bukan berarti saya selalu benar dalam memprediksi sebuah pertandingan. Tentu saja tidak, walau dengan sedikit berbangga (sediiiikit saja) saya memiliki rekor kebenaran prediksi yang cukup tinggi: rata-rata 3 dari 4 prediksi saya sesuai kenyataan.

Dua bulan sebelum terjadi, saya memprediksi akan terjadi All German final di Liga Champions. Di final, termasuk di depan ribuan warga Surabaya yang memadati sebuah acara nonton bareng, saya memprediksi Bayern Munich akan mengalahkan Borussia Dortmund, dengan skor akhir 2-1, dan Arjen Robben sebagai penentu kemenangan. Sebelum itu saya juga meyakini bahwa Atletico Madrid akan menjuarai Copa Del Rey. Terakhir, saya memperkirakan Belanda akan mengalahkan Indonesia dengan skor 3-0.

Yang ingin saya tekankan di sini adalah; prediksi bola terakurat bisa benar bisa salah, tapi yang penting sebuah prediksi mutlak harus memiliki dasar logika atau analisa yang make sense. Tanpa analisa yang benar, sebuah prediksi hanyalah sebuah roll of the dice, sebuah keberuntungan semata.

Dengan analisa yang benar maka faktor keberuntungan mengecil. Siapa pemenangnya tetap saja tidak bisa diprediksi secara 100%, apalagi prediksi mengenai skor akhir. Akan tetapi, presentase kemungkinan kejituan prediksi meningkat tajam.

Saya ajak Anda untuk menelaah beberapa prediksi terakhir saya guna menjabarkan beberapa prinsip penting yang saya yakin akan berguna bagi Anda saat mencoba memprediksi pertandingan.

Di antara prediksi yang saya sebut di atas, kejituan soal Atletico saya akui beruntung [karena tendangan Real Madrid berkali-kali mengenai mistar gawang Atletico]. Walau demikian ada logika di belakang prediksi tersebut: Atletico juara walau Real Madrid jauh lebih berkualitas. Media masa memberitakan ketidakrukunan pemain Madrid dengan pelatihnya, Jose Mourinho, dan bahkan ketidakrukunan di antara pemain sendiri.

Dari media asing saya mendapat kabar bahwa Ronaldo dan Mourinho juga tidak akur (berita mengenai hal ini baru keluar di Indonesia beberapa waktu lalu). Sebagai pelatih saya paham benar arti kekompakan tim di dalam dan di luar lapangan dan dampaknya bagi performa tim. Hal ini ditambah faktor Falcao yang sedang on fire, yang membuat saya berani memilih Atletico sebagai pemenang.

Tips prediksi 1: Pertimbangkan suasana dalam tim, terutama saat sebuah turnamen berlangsung di mana pemain harus terus bersama tanpa bisa menghindari rekan-rekannya.

Tip prediksi 2: Pertimbangkan kemonceran striker. Saat turnamen berlangsung atau saat pertandingan cup, kemonceran striker begitu menentukan. Saat pertandingan liga kualitas jangka panjang striker menentukan (bukan kemonceran sesaat), beserta semua elemen tim lainnya. Saat laga cup/turnamen kemonceran striker lebih menentukan, walau kekuatan keseluruhan tim juga harus dipertimbangkan.

Saat memprediksi kemenangan Belanda 3-0 atas Indonesia saya melawan hati nurani. Secara subjektif saya membela Indonesia tentunya. Namun, saat memakai kacamata bernama objektivitas, kita semua tentu setuju bahwa Belanda jauh di atas Indonesia. Lalu mengapa tidak memprediksi skor akhir yang lebih mencolok? Pertimbangannya, Belanda tidak akan teralu bersemangat sedangkan Indonesia akan bermain penuh gairah, sehingga akan bisa mereduksi perbedaan kualitas. Jadi, skor tipis atau besar bisa saja diprediksi dengan sound logic — namun kebenaran skor akhir yang spesifik, yakni 3-0, adalah keberuntungan semata.

Tips prediksi 3: Hindari membela sebuah tim saat membuat prediksi. Kita boleh selalu berharap tim kesayangan kita menang, tapi saat membuat prediksi tentu logika harus diutamakan di atas fanatisme hati.

Saya tersenyum saat membaca di sebuah media masa tentang persamaan-persamaan final Liga Champions tahun ini dengan tahun 1997 saat Dortmund menjadi juara terakhir kali. Banyak pembaca saya yakin terpancing untuk memprediksi kemenangan Dortmund berdasarkan fakta-fakta tersebut. Mereka lupa bahwa fakta-fakta tersebut menarik dan memang benar adanya, namun tidak memiliki kolerasi apapun dengan pertandingan final Liga Champions kali ini. Menghubung-hubungkan sebuah fakta dengan fakta yang lain adalah salah satu contoh dari sekian banyak macam fallacy of logic.

Tips prediksi 4: Jangan terpancing para wartawan yang seringkali mengungkapkan hal-hal yang sifatnya sebatas entertainment (menarik), namun dijual seakan akan pantas menjadi landasan membuat sebuah prediksi pertandingan.

Dalam tulisan yang sama statistik pertandingan antara Dortmund vs Bayern juga dimunculkan hingga bertahun-tahun ke belakang. Karena sejarah statistik Dortmund memang impresif saat melawan Bayern, banyak yang kemudian menilai BVB akan bisa mengalahkan Bayern di final Eropa. Hal ini menyesatkan. Mengapa? Karena statistik zaman “Hindia Belanda” tidak ada hubungannya dengan masa kini. Statistik awal musim pun tidak bisa dengan begitu saja menjadi tolok ukur. Perkembangan kedua tim sejak pertemuan terakhir perlu dipertimbangkan.

Tips prediksi 5: Gunakan statistik terkini. Artinya, fokuskan perhatian Anda pada statistik pertandingan antara kedua tim yang paling dekat dengan saat ini. Selain itu pertimbangkan pula skor pertandingan (menang/seri/kalah) dan performa permainan (impresif/beruntung/naik-turun/dll.) kedua tim secara keseluruhan (melawan siapa saja), untuk kurun waktu akhir-akhir ini saja.

Karena prediksi saya sering saya tampilkan di twitter (@coachtimo), banyak pihak meminta saya memprediksi berbagai pertandingan lainnya. Kebanyakan saya abaikan atau saya tolak dengan alasan kurang paham mengenai kekuatan kedua tim. Alasan saya ini senafas dengan tips prediksi berikut.

Tips prediksi 6: Jangan sok tahu. Hindari mencoba-coba membuat prediksi tanpa dilatar belakangi data dan pengetahuan yang baik mengenai tim atau liga tersebut. Kalau bukan pakarnya English Premiere League, misalnya, hindari membuat prediksi tentang MU vs Chelsea. Kita mustahil menjadi pakar tentang semua liga yang ada. Akui saja.

Tips prediksi 7: Kita juga tidak seharusnya memprediksi setiap pertandingan. Ada waktunya pertandingan sangat sulit diprediksi. Analisa Anda deadlock. Prosentase kemenangan bagi kedua tim menurut Anda 50-50. Kalau sudah begitu tahan diri, hindari memaksakan diri membuat prediksi. Dengan demikian prosentase kejituan prediksi anda akan meningkat.

Masih banyak pertimbangan lainnya yang bisa dan patut digunakan dalam membuat sebuah prediksi yang berkelas. Karena keterbatasan tempat saya berhenti sampai di sini dulu.

Ingat: sebuah prediksi yang berkelas tidak melulu ditentukan oleh kebenaran prediksi tersebut. Sebuah prediksi yang berkelas, baik benar maupun salah, seharusnya dinilai dari reason atau kualitas analisa yang ada di belakangnya.

1 month ago